
Analisis pasar crypto minggu ini akan menyentuh pasar crypto yang mengalami pekan fluktuatif di akhir Februari 2026. Bitcoin (BTC) sempat menyentuh level terendah tahunan di sekitar $62.900 sebelum rebound ke kisaran $65.000–$66.000. Total kapitalisasi pasar crypto stabil di sekitar $2,1 triliun, sementara indeks Fear & Greed tetap di level “Extreme Fear” (11).
Meski demikian, akhir pekan dan awal Maret menunjukkan relief rally: BTC naik hingga +4,8% pada 1 Maret, Ethereum (ETH) +7%, dan Solana (SOL) melonjak +11% ke $88–$89. Pelemahan secara keseluruhan masih dipengaruhi oleh makroekonomi dan geopolitik, meski sinyal akumulasi jangka panjang mulai terlihat.
Minggu lalu didominasi oleh ketidakpastian kebijakan perdagangan AS dan ketegangan geopolitik yang memicu sentimen risk-off di seluruh aset berisiko, termasuk crypto.
Pada 23 Februari, Presiden Trump mengumumkan tarif impor global 15% “efektif segera” setelah Mahkamah Agung membatalkan tarif sebelumnya berdasarkan IEEPA. Pemerintah kemudian menerapkan tarif sementara 10% per 24 Februari (Section 122), yang dinaikkan menjadi 15%. Hal ini menimbulkan kekhawatiran inflasi dan perlambatan perdagangan global.
Dampak langsungnya, aset berisiko (termasuk crypto dan saham tech) langsung tertekan dan BTC sempat jatuh ke $62.900. Namun, karena tarif akhirnya lebih rendah dari ekspektasi 15–20%, pasar bereaksi dengan “TACO trade” (Trump Always Chickens Out).
Revisi GDP Q4 2025 turun tajam ke +1,4% (dari +4,4%) akibat shutdown pemerintah. Core PCE Januari naik 3,0% YoY, CPI melambat ke 2,4%, dan Industrial Production +0,7%. Data ini memperkuat narasi “higher for longer” suku bunga The Fed, menekan ekspektasi pemotongan suku bunga untuk bulan Maret.
S&P 500 naik +1,08% dan Nasdaq +1,51% secara mingguan berkat rotasi ke sektor “real economy”, tapi tetap mencerminkan ketidakpastian.
Ketegangan AS-Iran meningkat setelah kabar tewasnya pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Khamenei, disertai dengan diblokirnya Selat Hormuz oleh Iran. Kejadian tersebut mendorong harga minyak naik dan investor beralih ke safe-haven seperti emas yang sudah kembali ke atas $5200 per oz. Sentimen risk-off ini langsung menekan crypto dan saham teknologi.
Kombinasi tarif dan geopolitik ini menyebabkan likuidasi besar-besaran ($3–4 miliar minggu sebelumnya, termasuk $2,5 miliar di BTC futures) dan outflow ETF Bitcoin. Namun, tarif yang lebih rendah dari dugaan memicu relief rally akhir minggu, mendorong BTC kembali ke $66.000.

Performa harga utama: BTC menutup minggu lalu di harga sekitar $65.700. Secara teknis, Bitcoin masih belum menunjukkan adanya sinyal bullish dan berada di zona konsolidasinya di sekitar $62.900–$71.500. Tekanan jual masih dominan di Bitcoin, ditandai dengan pembentukan struktur higher low dan tekanan dari 21 EMA di timeframe 1 hari.

Ethereum terlihat masih berkutan di area antara $1.826–$2.149 yang menunjukkan belum ada potensi kenaikan maupun penurunan, melainkan masih dalam fase konsolidasi.

Serupa dengan Ethereum, Solana juga masih berada di dalam area konsolidasinya di antara $75 dan $90. SOL sempat naik ke harga $89 dan terlihat akan mengetes area atas konsolidasi. Namun, kenaikan tersebut langsung kembali di-retrace dan kini berada di angka $82,7 (per 2 Maret).
Data on-chain menunjukkan pasar sedang dalam fase deleveraging dengan sinyal akumulasi jangka panjang meski aktivitas jaringan rendah.
Bitcoin: Volume transaksi harian turun ke level terendah 6 bulan (~$20 miliar) dan active addresses menurun, mengindikasikan utilitas jaringan stagnan. Whale & large holders (10–10.000 BTC) mengakumulasi ~15.411 BTC dalam 3 hari. Wallet >10.000 BTC juga membeli. Long-term holder terus menarik koin dari exchange (data reserve multi tahun rendah).
MVRV: MVRV 365 hari di -32% (zona beli historis seperti 2022 bottom). Realized losses meningkat, non-empty wallet capai ATH 58,4 juta.
Funding rate: negatif di Binance (dominan short), open interest turun sejak Oktober 2025, mengindikasikan deleveraging tanpa panic selling.
Implikasi: On-chain menunjukkan fundamental tetap sehat (akumulasi institusional & LTH, stablecoin supply tinggi). Penurunan harga lebih disebabkan makro dan deleveraging daripada fundamental buruk. RSI mingguan oversold (BTC 28, ETH 25), kondisi yang mirip bottom 2022.

Sumber: Defillama.com.
Bitcoin ETF mencatat outflow -$203 juta pada 23 Februari (terbesar BlackRock IBIT $116 juta), tapi kemudian inflow +$1,1 miliar selama tiga hari berturut-turut, membalikkan tren aliran dana yang keluar secara 5 minggu berturut-turut. Secara mingguan, aliran total Bitcoin ETF sekitar +$787 juta.
Ethereum ETF juga sempat mengalami outflow -$49 juta awal minggu. Menariknya, Solana ETF mengalami inflow konsisten selama 5 hari (puncak +$30,9 juta), menunjukkan indikasi rotasi ke altcoin.
Pekan lalu, crypto masih tertekan oleh makro (tarif Trump + ketegangan Iran) dan outflow ETF awal, tapi relief rally akhir minggu serta akumulasi whale menandakan potensi proses pembentukan bottoming.
Minggu depan akan ditentukan data Non-Farm Payrolls AS (6 Maret) dan keputusan ECB. Jika data ekonomi lemah atau tarif mereda, relief rally bisa berlanjut menuju $70.000 untuk BTC.


Bagikan