
Silver ETF tertokenisasi adalah aset investasi berbasis blockchain yang dirancang untuk memberikan eksposur terhadap perak tanpa harus memiliki perak fisik secara langsung. Di tengah terbatasnya likuiditas di pasar tradisional, SLVON menjadi alternatif digital yang memungkinkan investor mengakses perak secara on-chain, lebih fleksibel, dan dapat diperdagangkan 24 jam melalui ekosistem crypto. Dalam artikel ini akan membahas cara kerja SLVon, kelebihan kekurangan, regulasi, hingga cara berinvestasi SLVon!
SLVon merupakan aset berbasis blockchain yang merepresentasikan iShares Silver Trust, salah satu ETF perak terbesar di dunia. Token ini diterbitkan oleh Ondo Global Markets dengan tujuan menghadirkan eksposur perak ke ekosistem on-chain. Setiap SLVon mencerminkan pergerakan harga dan nilai aset bersih (NAV) dari trust perak yang mendasarinya. Namun, kepemilikan token ini tidak memberikan hak atas perak fisik dan didukung oleh infrastruktur kustodian yang teregulasi.
Berbeda dengan ETF perak konvensional, SLVon dapat diperdagangkan 24/7 di bursa kripto dan ditransfer secara langsung melalui blockchain. Selain itu, token ini dapat digunakan dalam berbagai aplikasi DeFi, sehingga memberikan akses perak yang lebih fleksibel dan likuid di ekosistem aset digital.
Berikut cara kerja SLVon Tokenized Silver ETF yang diterbitkan oleh Ondo Global Markets:
Berikut adalah kelebihan dan kekurangan SLVON:
Meningkatnya perhatian terhadap SLVon pada 2026 dipicu oleh kombinasi tekanan makroekonomi global dan adopsi aset on-chain yang semakin luas. Dalam waktu singkat, aktivitas perdagangan perak berbasis token melonjak tajam, seiring nilai aset SLVon yang menembus puluhan juta dolar dan pertumbuhan jumlah pemegang yang signifikan.

Tren ini sejalan dengan reli harga perak yang melampaui $80 per ons, dipengaruhi oleh struktur pasokan yang terbatas. Sekitar 70–80% perak dunia dihasilkan sebagai produk sampingan dari penambangan timbal, seng, tembaga, dan emas, sehingga suplainya sangat bergantung pada aktivitas tambang logam lain. Ketergantungan ini membuat pasokan perak relatif kaku saat permintaan meningkat.
Dalam kondisi ini, SLVon menjadi alternatif on-chain yang efisien untuk memperoleh eksposur perak. Investor dapat mengakses pasar 24 jam tanpa perantara tradisional, dengan dukungan likuiditas on-chain, transaksi instan, dan kepemilikan fraksional. Pertumbuhan SLVON mencerminkan meningkatnya minat terhadap komoditas tokenisasi sebagai opsi yang lebih fleksibel dibandingkan pasar logam mulia konvensional.
Data terbaru menunjukkan total asset value SLVON telah mencapai $38,59 juta, mencatatkan kenaikan sekitar 91% dibandingkan 30 hari sebelumnya. Lonjakan ini mencerminkan arus modal yang kuat ke instrumen silver tertokenisasi, seiring meningkatnya minat investor terhadap aset berbasis komoditas di ekosistem crypto. Kenaikan nilai aset ini juga menandakan bertambahnya suplai token yang beredar secara on-chain. Secara keseluruhan, tren ini menggambarkan fase ekspansi yang agresif sejak akhir 2025 hingga awal 2026.

Net Asset Value (NAV) SLVON tercatat di level $76,96, meningkat sekitar 11,45% dalam 30 hari terakhir. Kenaikan NAV ini selaras dengan reli harga perak global dan memperkuat daya tarik SLVON sebagai instrumen eksposur perak digital. Jumlah pemegang (holders) juga melonjak tajam menjadi 5.056 alamat, tumbuh lebih dari 285% secara bulanan. Pertumbuhan jumlah holder ini menunjukkan adopsi yang semakin luas, baik dari investor ritel maupun pengguna crypto yang mencari diversifikasi aset.
Aktivitas on-chain SLVON tercermin dari monthly transfer volume yang mencapai USD 314,48 juta, naik lebih dari 132% dibandingkan bulan sebelumnya. Tingginya volume transfer mengindikasikan meningkatnya likuiditas dan frekuensi transaksi di berbagai jaringan blockchain. Hal ini memperkuat posisi SLVON sebagai aset yang aktif diperdagangkan, bukan sekadar instrumen pasif. Peningkatan aktivitas ini juga mencerminkan kepercayaan pasar terhadap mekanisme tokenisasi dan infrastruktur pendukungnya.
Berikut contoh produk silver tertokenisasi (ETF dan non-ETF) yang sudah tersedia atau dikembangkan di pasar on-chain:
Produk-produk ini menggambarkan pergeseran aset perak tradisional ke format digital dengan likuiditas tinggi on-chain, fractional ownership, serta akses global yang lebih luas dibandingkan instrumen ETF konvensional.
Berikut perbedaan utama antara SLVon dan ETF perak tradisional seperti iShares Silver Trust (SLV):
Perbedaan ini menjadikan SLVon sebagai alternatif ETF perak yang lebih sesuai bagi investor yang mengutamakan likuiditas 24/7 dan integrasi dengan ekosistem kripto.
Berikut adalah gambaran umum mengenai regulasi yang mengatur silver ETF tertokenisasi, seperti SLVon beserta tantangan hukum yang masih menyertainya:
Regulator keuangan AS seperti U.S. Securities and Exchange Commission (SEC) telah mengeluarkan pedoman terkait sekuritas yang ditokenisasi, termasuk aset yang direpresentasikan di blockchain (misalnya token komoditas atau token sekuritas).
Pedoman ini membantu menentukan apakah suatu token harus diperlakukan sebagai sekuritas di bawah hukum federal dan menegaskan kewajiban pendaftaran, disclosure, dan perlindungan investor jika token tersebut termasuk kategori sekuritas. Penerapan pedoman ini akan mempengaruhi struktur hukum dan kepatuhan untuk produk seperti silver ETF tertokenisasi agar sesuai dengan peraturan pasar modal yang berlaku.
Di Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tengah mengembangkan aturan untuk penawaran aset keuangan digital (Digital Financial Asset Offering), termasuk tokenized asset yang ditawarkan ke publik. Draft regulasi ini mencakup definisi aset digital, klasifikasi, syarat penerbitan, serta persyaratan izin dan proses penawaran yang harus dipenuhi sebelum dapat dipasarkan kepada investor domestik. Ketentuan ini akan memberikan kepastian hukum dan pengawasan atas pemasaran dan distribusi token aset di pasar Indonesia.
Dalam konteks global, organisasi seperti International Organization of Securities Commissions (IOSCO) mencatat bahwa tokenisasi aset keuangan menghadirkan tantangan regulasi tersendiri, termasuk pengakuan hukum atas token sebagai representasi aset, hak investor, dan risiko teknologi seperti smart contract.
Secara umum, regulasi silver ETF tertokenisasi masih berkembang dan sangat tergantung pada yurisdiksi dimana token tersebut ditawarkan, bagaimana token diklasifikasikan (sekuritas, komoditas, atau lainnya), serta mekanisme kepatuhan terhadap aturan pasar modal, perlindungan investor, dan keamanan teknologi blockchain yang digunakan.
Di Pintu, aset SLVon sudah tersedia dan kamu bisa melakukan investasi SLVon dengan nominal mulai dari Rp11.000. Berikut cara mudah beli SLVon di Pintu:
Silver ETF tertokenisasi (SLVON) menghadirkan cara baru untuk memperoleh eksposur harga perak melalui teknologi blockchain dengan akses 24/7, likuiditas on-chain, dan integrasi DeFi. Di tengah tekanan pasokan perak fisik dan meningkatnya minat terhadap aset lindung nilai inflasi, SLVON menjadi alternatif yang lebih fleksibel dibanding ETF tradisional.
Disclaimer: Semua artikel dari Pintu Academy ditujukan untuk tujuan edukasi dan bukan merupakan nasihat keuangan.
Referensi:
Bagikan
Table of contents
Lihat Aset di Artikel Ini
Harga SLVON (24 Jam)
Kapitalisasi Pasar
-
Volume Global (24 Jam)
-
Suplai yang Beredar
-